20 Tahun Reformasi, Ini Catatan Amien Rais

Oleh Klikampera pada Selasa, 22 Mei 2018 18:44 WIB

Jakarta, klikampera.com – Tokoh reformasi Amien Rais ikut bercerita mengenai pengalamannya terkait perjalanan Reformasi 1998 pada 20 tahun silam.

Hal itu disampaikan Amien dalam Peringatan 20 Tahun Reformasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Sehari setelah mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, tepatnya pada 19 Mei 1998, Amien Rais ditelepon oleh seorang petinggi TNI.

Hari sudah malam. Amien menceritakan, saat itu ia dihubungi seorang jenderal bintang dua yang ia lupa namanya.

“Saya ditelepon dari Cilangkap. Saya betul-betul lupa namanya. ‘Pak Amien Rais, saya Mayjen ini, jadi Pak Amien, tolong 20 Mei yang akan dijadikan syukuran reformasi di Monas, itu tolong dibatalkan’,” kata Amien menirukan ucapan Sang Jenderal.

Saat itu, kata Amien, jenderal tersebut mengaku telah diperintah untuk membubarkan massa yang berniat berkumpul di Monas.

Lapangan Monas memang direncanakan menjadi lokasi berkumpulnya massa pada 20 Mei 1998 untuk menuntut Soharto mundur dari kursi kepresidenan.

Tanggal 20 Mei 1998 dipilih untuk melakukan “people power”, sekaligus untuk memperingati 90 tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Namun, Amien melanjutkan, tak tanggung-tanggung, jenderal itu mengatakan bahwa tentara tak segan menggunakan cara pembubaran massa seperti Peristiwa Tiananmen.

Dalam tragedi yang terjadi di China pada 1989 itu, demonstrasi mahasiswa dibubarkan oleh tentara hingga menyebabkan korban jiwa. Peristiwa itu menjadi dikenal dunia dengan foto ikonik mahasiswa yang mengadang tank.

Amien lantas menyampaikan informasi tersebut kepada para mahasiswa yang sudah menguasai gedung DPR/MPR. Ketua PP Muhammadiyah pada 1998 itu tak ingin terjadi pertumpahan darah.

Saat hari sudah berganti, sekitar pukul 02.00 WIB, 20 Mei 1998, Amien yang masih mengenakan sarung dan kemeja batik bergegas menuju Monas.

Sesampainya di Monas ia melihat kawat berduri, para tentara, dan panser sudah berjejer memagari Monas.

Amien Rais lantas mendatangi sekumpulan tentara yang berjaga. Amien menanyakan apakah benar tentara akan membubarkan massa yang berkumpul pagi nanti.

“Saya mau tanya ke Anda semua, instruksinya apa?” tanya Amien.

“Pak Amien, kami belum ada instruksi. Tapi sudah disuruh berjaga di Monas ini. Semua pintu masuk ke Monas sudah dijaga dengan beberapa tank, panser, dan juga gulungan kawat berduri,” ujar Amien menirukan jawaban tentara tersebut.

Akhirnya pukul 04.00 WIB, Amien dan sejumlah tokoh reformasi lainnya mengadakan konferensi pers. Mereka memindahkan lokasi demonstrasi ke gedung DPR/MPR, yang memang sudah dikuasai mahasiswa sejak 18 Mei 1998.

“Saya mengatakan, ‘Saudara-suadara, para peserta yang akan datang ke Monas untuk syukuran reformasi, kalau ada orang yang paling kecewa dengan apa yang saya katakan adalah saya sendiri’,” kata Amien.

“Karena kita sebaiknya membatalkan syukuran reformasi di Monas itu agar tidak terjadi pertumpahan darah. Sebagai gantinya mungkin kita berkumpul di MPR dan di sana bisa lebih terawasi,” ucap Amien, menceritakan detik-detik menegangkan peristiwa reformasi. (Rzp)

Pos terkait