Bulog Sumsel Minim Serap Gabah

Oleh Klikampera pada Selasa, 27 Maret 2018 04:08 WIB

Sumatera Selatan, klikampera.com – Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS mengatakan, pihaknya memang tidak begitu terkonsentrasi dalam penyerapan gabah, namun memang penyerapan beras lebih diutamakan. Hanya saja, gabah tetap diserap oleh Bulog Divre Sumsel Babel.

“Dalam satu harinya, gabah yang bisa kita serap sekitar 10-20 ton saja per unit gudangnya. Sementara untuk penyerapan gabah hanya dilakukan di 4 unit di sejumlah daerah, yakni Telang, Jatimulyo, Kayu Agung, dan Martapura,” ucapnya.

Untuk dapat mewujudkan program pemerintah untuk lebih maksimal penyerapan gabah, kata dia, perlu dilakukan revitalisasi. Tahun ini rencananya akan dibangun unit gudang pengolahan gabah baru di Sumsel. Yakni di Banyuasin dan OKU Timur.

“Sekarang dalam proses tender. Pembangunannya sendiri memakan waktu 5 bulan. Tahun ini sudah bisa dipakai. Dengan adanya unit gudang baru ini maka secara otomatis penyerapan dan pengolahan gabah akan meningkat. Bisa sekitar 200 ton per harinya,” ucapnya.

penyerapan yang dinilai sangat minim itu karena memang sarana dan prasarana pengolahan dan penggilingan gabah di wilayahnya tidak memungkinkan. Seperti halnya mesin-mesin pengolahan dan penggilingan yang jumlahnya terbatas dan kondisi mesin sudah tua.

Bakhtiar menjelaskan, untuk penyerapan beras sendiri saat ini sudah perlahan mulai dilakukan. Tercatat sejak memasuki masa panen tahun ini sudah sebanyak 1.160 ton beras yang masuk gudang sementara kontrak yang berjalan seharusnya mencapai 1.266 ton beras.

Dari penyerapan beras itu, sudah membantu mengisi stok beras di gudang Bulog. Bahkan saat ini jumlah stok beras di gudang Bulog sekitar 15.555 ton beras atau hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 2 bulan saja.

Bahkan diketahui, stok beras gudang di Bulog itu merupakan juga kiriman beras dari Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

“Kondisi beras yang ada di gudang Bulog saat ini bisa dibilang cukup meski jumlah penyerapannya masih jauh target realisasi yang harusnya tahun ini mencapai 80.000 ton beras,” ucapnya.

Diakuinya, penyerapan beras yang masih rendah itu dikarenakan saat ini harga pembelian beras dari petani di pasaran cukup tinggi.

Sementara Bulog membeli beras petani sesuai dengan HPP yakni Rp7.300 per kilogramnya. Hanya saja saat ini, dikenakan harga fleksibilitas 10 persen dari HPP menjadi Rp8.030 per kilogramnya.

Ia pun mengakui pihaknya tidak bisa menyerap banyak beras dari petani. Hal itu dikarenakan, beras yang masuk ke gudang Bulog tidak begitu banyak disalurkan keluar.

Sebab, saat ini beras yang ada di gudang Bulog hanya memiliki sejumlah outlet penyaluran seperti bantuan sosial dan beras cadangan pemerintah.

“Bansos sekian persen, rastra sudah tidak ada. Jika kita serap begitu banyak, maka butuh dilakukan pemeliharaan, seperti biaya perawatan dan bunga bank. Kondisi kualitas beras harus diutamakan,” jelasnya. (Ra)

Pos terkait