City dan Liverpool Lahirkan Standard Baru “Fusi Sepak Bola” di Inggris

oleh -3 views
Manchester City dan Liverpool tidak saja menciptakan catatan-catatan hebat selama musim ini ketika mereka menjadi juara dan runner up yang predikat ini ditentukan pada hari terakhir liga, tapi kedua tim juga sukses mengubah wajah sepak bola Inggris (REUTERS/Phil Noble)

Jakarta, klikampera.com – Manchester City mempertahankan gelar juara Liga Premier, Minggu malam tadi, setelah menyisihkan Liverpool cuma dengan selisih satu poin. Jumlah poin yang mereka kemas sepanjang musim ini menggambarkan bahwa mereka bukan sekadar konsisten dalam pengumpulan poin.

City yang diasuh Pep Guardiola dan Liverpool yang dipimpin Juergen Klopp mencapai posisi mereka masing-masing dengan permainan yang menghibur, menyerang dan sepak bola positif yang telah menciptakan standard baru dalam sepak bola Inggris, bahkan Eropa.

Manchester City yang mengoleksi 98 poin dan Liverpool yang mengumpulkan 97 poin, yang berselisih jauh 25 poin dari peringkat ketiga Chelsea, jelas menggambarkan betapa tidak berhentinya sukses dua klub teratas itu.

Kombinasi poin mereka yang mencapai 195 poin adalah catatan poin tertinggi liga utama untuk juara dan runner-up liga. Mereka juga memecahkan rekor karena hanya berselisih dua pertandingan. Catatan total 62 kemenangan yang mereka bukukan bersama adalah juga rekor untuk dua teratas liga utama.

Belum termasuk tekanan tinggi dan denyut persaingan yang amat sengit yang seharusnya mendorong mereka melakukan kesalahan.

City memenangi 14 pertandingan terakhirnya sejak Januari, sedangkan Liverpool mengakhiri perjalanan delapan kali menang setelah dikalahkan City empat bulan lalu.

Di samping diwarnai beberapa kemenangan vital khususnya pada fase akhir kompetisi yang dimenangkan dalam margin tipis, kedua tim total menciptakan 184 gol atau rata-rata 2,4 gol per pertandingan.

Klopp dan Guardiola menghindari perang mulut sepanjang musim ini, sebaliknya mereka saling memuji klub mereka satu sama lain.

Pandangan bahwa kedua tim layak mendapatkan pujian besar atas gaya main mereka sepanjang musim ini dengan jelas diutarakan pada pengamat sepak bola, salah satunya dari mulut mantan gelandang Liverpool Graeme Souness.

“City adalah tim yang fantastis. Mereka memainkan pertandingan dengan cara yang benar, dengan kekuatan dan kedalaman skuatnya. Tim yang spesial mempertahankan gelar,” kata pria Skotlandia yang kini menjadi analis untuk Sky Sports.

“Ini adalah tim Liverpool yang menakjubkan dan saya tidak bisa menemukan di sepanjang hidup saya ada runner-up yang begitu luar biasa seperti ini. Saya mengandaikannya dengan Piala Dunia 1982 dan Brasil. Mereka adalah tim terbaik yang tidak menjuarai Piala Dunia. Tim Liverpool yang ini adalah tim terbaik yang tidak menjuarai Liga Premier.”

Yang menarik adalah debat panjang bertahun-tahun mengenai formasi bermain, apakah itu 4-4-2, lima di belakang, diamond, pohon Natal dan ‘false nine’, sama sekali hilang musim ini.

Alasannya adalah baik City maupun Liverpool tidak memainkan sistem terformat ketat itu.

Liverpool biasanya memasang empat pemain di belakang tetapi dua full-back mereka, Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson, adalah bagian esensial dari ancaman serang mereka.

Assist ke-12 dan ke-13 musim ini dari Alexander-Arnold yang masih berusia 20 tahun, Minggu malam tadi, membuat dia mencatat rekor baru untuk seorang bek pada era Liga Premier. Robertson tidak jauh beda, dengan menciptakan 11 gol selama musim ini.

Barisan depan City digambarkan sebagai trisula dengan Sergio Aguero diapit dua pemain sayap, biasanya Raheem Sterling bersama dengan antara Leroy Sane, Bernardo Silva atau Riyad Mahrez di sayap satunya lagi.

Tetapi Bernardo Silva juga sering bermain sebagai gelandang pada umumnya, bersama atau tanpa David Silva, sehingga lapangan tengah City yang sangat kuat menjadi bagian paling penting dalam serangan mereka, dengan hanya pemain asal Brasil Fernandinho menjadi satu-satunya yang berperan defensif.

Pun demikian dengan Liverpool. Gelandang asal Brasil Fabinho juga memainkan peran krusial sebagai jangkar, atau memainkan peran gelandang untuk menyapu setiap masalah di depan pertahanan City sekaligus pencipta landasan yang memberi kebebasan kepada para gelandang yang lebih bernaluri menyerang.

Taktik-taktik yang dikembangkan Klopp dan Guardiola memiliki kemiripan satu sama lain, khususnya kemampuan krusial dari para pemain penyerang mereka yang dengan cepat mencari bola begitu kehilangan bola.

Tetapi ada elemen yang sangat berbeda di antara cara main kedua klub itu. City mengandalkan kepada dominasi penguasaan bola untuk mengurai lawan dan membuka celah pertahanan mereka, sedangkan serangan intensitas tinggi Liverpool dengan cepat menyapu lawan lewat gelombang serangan bertenaga.

Kedua pendekatan permainan ini sangat nikmat untuk disaksikan dan membuat kualitas teknik para pemain mereka menjadi bersinar, para pemain yang bersinar ini berada di atas semua pemain di kedua tim yang memperdahsyat hasrat mereka dalam melumpuhkan lawan, dengan gaya yang mengandalkan keterampilan diri dan kepercayaan diri terhadap superioritas mereka seorang.

Pelatih asing bukan barang baru dalam sepak bola Inggris tetapi Guardiola si Spanyol dan Klopp si Jerman telah bertindak lebih dari sekadar membuktikan mereka bisa mengatasi tantangan Liga Premier, karena mereka juga bisa mentransformasikan gaya sepak bola Inggris seperti diharapkan para fans.

Gabungan pendekatan taktik yang dibangun kedua pelatih di La Liga, Bundesliga dan Liga Champions telah dikawinkan dengan intensitas tempo tinggi yang selama ini menjadi trademark gaya sepak bola Inggris.

Hasilnya adalah fusi atau gabungan berbagai gaya sepak bola yang melukiskan kemajemukan tradisi, pendekatan dan taktik Eropa tetapi telah menarik pendukung sepak bola Inggris dan di atas itu semua sukses membawa hasil, demikian Reuters.

(Antara)
Editor: Rianza