Gelar Pertemuan dengan Perbankan di Sumsel, Arniza Dorong Bank Syariah Berperan Aktif dalam Program PEN

Dalam agenda Reses anggota DPD RI asal Sumsel, Arniza Nilawati, S.E., M.M., Kamis (25/2/2021) melakukan pertemuan dengan pihak Bank Syariah Indonesia (BSI) wilayah Sumsel
  • Whatsapp

Palembang, klikampera.com – Dalam agenda Reses anggota DPD RI asal Sumsel, Arniza Nilawati, S.E., M.M., Kamis (25/2/2021) melakukan pertemuan dengan pihak Bank Syariah Indonesia (BSI) wilayah Sumsel, Bank Sumsel Babel (BSB), dan Bank Muamalat Tbk Palembang. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan mengambil tempat di Meeting Room Lantai 15 Kantor Pusat BSB di Jakabaring, Palembang.

Hadir dalam acara itu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK, Iwan M. Ridwan beserta staff, Direktur Utama BSB, Ahmad Syamsuddin beserta staff pimpinan lainnya, Regional Manager Bank Syariat Indonesia (BSI), Pimpinan Bank Muamalat Tbk Kantor Cabang Palembang, dan staff pimpinan lainnya. Arniza hadir didampingi Kepala Kantor DPD RI Sumsel Yuni Samsi Agus, SH. MSi., serta dua orang Staff Ahli.

Fokus pembicaraan yang menjadi konsens Arniza dalam pertemuan tersebut adalah tentang peran bank syariah dalam penyaluran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada masyarakat, Koperasi, dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Pada kesempatan itu Arniza mengungkapkan, bahwa dari “roadshow”nya ke beberapa daerah dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat, didapati beberapa fakta, dampak pandemi, yang saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan tingkat intensitas penyebarannya, sangat memukul perekonomian masyarakat, serta juga memukul sektor usaha mikro, kecil dan menengah.

Data rilis terbaru BPS menunjukkan pada September 2020 jumlah penduduk miskin di Sumsel telah mencapai 1.119.65 ribu orang atau 12,98 persen dari total jumlah penduduk Sumsel. Dengan demikian terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin dibandingkan periode Maret 2020 sebanyak 38, 07 ribu orang. Jadi dari periode maret ke periode September terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin di Sumsel sebesar 0,32 persen.

“Data dari BPS terbaru juga menunjukkan bahwa terjadi kontraksi dibidang lapangan usaha dimana indeks kemampuan berusaha di Sumsel menunjukkan daya saing masih berada di zona negatif.” Ungkap Arniza.

Dalam situasi demikian, menurut Arniza, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Sumsel diharapkan dapat dengan cepat masuk ke sektor-sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Disamping itu keterlibatan bank syariah dalam penyaluran bantuan sosial untuk menggerakkan sektor konsumsi masyarakat, belum terlihat maksimal.

“Pada sisi yang lain, kami melihat letak daerah yang berada jauh dari pusat pemulihan ekonomi (di ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota), tidak begitu cepat mendapatkan layanan pemulihan ekonomi, untuk menambah daya tahan perekonomian mereka,” Ujar Arniza.

Terkait dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) yang baru saja terbentuk hasil dari merger tiga bank syariah negara, yaitu BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, pada januari 2021 yang lalu, diharapkan Arniza agar BSI dapat segera mengambil langkah-langkah mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional.

“Sebetulnya dengan melihat karakteristik masyarakat Indonesia, dan Sumsel khususnya, yang mayoritas penduduk muslim, maka relatif BSI lebih cepat diterima dan dipercaya masyarakat, sehingga dalam situasi demikian bank syariah relatif tidak mengalami hambatan berarti dalam kiprahnya bersentuhan dengan masyarakat,” Tegasnya.

Arniza berharap proses merger yang baru dilakukan yang membentuk Bank Syariah Indonesia (BSI), tidak begitu lama menghabiskan waktu untuk mengonsolidasikan diri, sehingga fungsi pelayanan masyarakat dapat segera on the track.

(Ant/riil)

Pos terkait