Zigzag Politik, Elektabilitas Deddy Mizwar Dilewati Dedi Mulyadi

oleh -19 views

Dalam zigzag yang dilakukan Deddy Mizwar, Fajar menilai hal tersebut disebabkan adanya ketidakpastian, baik dari PKS dan Gerindra yang sejak awal digadang-gadang bakal menjadi kendaraan politik Deddy Mizwar pada Pilkada Jawa Barat 2018.

“Pak Deddy Mizwar yang dekat dengan PKS butuh kepastian politik. Ketika dia sering ke PDI-P, Demokrat dan segala macam itu, dianggap ketidakjelasan politik yang merugikan posisinya sendiri,” ucap Fajar.

“Jadi ini punya potensi yang memepengaruhi sikap publik yang melihat gelagat seperti ini,” kata dia.

Di samping itu, lanjut Fajar, belakangan ini Dedi Mulyadi juga dianggap bekerja dengan baik.

Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat itu dinilai sering berkeliling Jawa Barat untuk mengunjungi masyarakat tradisional yang sampai saat ini bisa dikatakan sebagai basis terbesar pemilihnya.

“Kita melihat atribut paling kuat Pak Dedi Mulyadi concern ke bawah. Dia juga dermawan dan dekat dengan publik. Itu luar biasa,” ucap Fajar.

(Baca juga: SMRC: Ridwan Kamil Unggul dalam Semua Simulasi Survei Pilkada Jabar)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat sesi foto di kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jakarta, Selasa (24/10/2017). Dedi Mulyadi digadang-gadang menjadi salah satu kandidat calon gubernur dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2018.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat sesi foto di kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jakarta, Selasa (24/10/2017). Dedi Mulyadi digadang-gadang menjadi salah satu kandidat calon gubernur dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat 2018. (KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES)

Dia melanjutkan, elektabilitas Dedi Mulyadi bukan tidak mungkin mendekati Ridwan Kamil.

Salah satu opsinya adalah memanfaatkan kondisi psikologis yang dialaminya saat ini. Kondisi itu adalah ketika Partai Golkar seolah “membuangnya” dan malah mendukung Ridwan Kamil yang berpasangan dengan serta kader Partai Golkar lain, Daniel Muttaqien.

“Bisa dikapitalisasi. Politikus yang cerdas adalah politikus yang bisa mengkapitalisasi berbagai stigma yang ada, menjadi dukungan publik yang maksimal,” ujar Fajar.

Fajar menambahkan, fenomena yang dialami oleh Dedi Mulyadi pernah terjadi pada pemimpin-pemimpin sebelumnya.

“Dulu pak SBY sama dizalimi, kemudian dia dapat simpati publik. Bu Mega juga sama. Jokowi sama, dizalimi macam-macam juga mendapat simpati publik,” ucapnya.

(Baca juga: Bertemu Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi Bilang Akan Bikin Film “Bus Meninggalkan Pengantin”)

Meski demikian, yang paling penting saat ini untuk dipikirkan oleh Dedi Mulyadi adalah bagaimana caranya mendapatkan partai pendukung selain Partai Golkar.

“Tantangannya, bagaimana dia dapat kendaraan politik,” kata Fajar.

Untuk diketahui, Indocon melakukan survei yang mewakili pendapat masyarakat Jawa Barat berusia 17 tahun atau sudah menikah (eligible voters).

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 971 responden sampel (dari 1.000 responden yang direncanakan). Sampel ditentukan secara proporsional terhadap populasi penduduk yang tersebar di 27 kabupaten kota di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat.

Metode survei yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error sekitar 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengumpulan data berlangsung pada tanggal 10 sampai dengan  22 Oktober 2017.