Iriana Joko Widodo Hadiri ‘Sosialisasi Bahaya Narkoba, Hoaks, dan Sampah Plastik’ Kepada 1.000 Siswa di Provinsi Aceh

oleh -21 views
ke Provinsi Aceh, Ibu Negara Iriana Joko Widodo menghadiri 'Sosialisasi Bahaya Narkoba, Hoaks, dan Sampah Plastik' kepada 1.000 siswa dari berbagai daerah yang ada di Provinsi Aceh, Jumat (1/2/)

Aceh, klikampera.com – Dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Aceh, Ibu Negara Iriana Joko Widodo menghadiri ‘Sosialisasi Bahaya Narkoba, Hoaks, dan Sampah Plastik’ kepada 1.000 siswa dari berbagai daerah yang ada di Provinsi Aceh, Jumat (1/2/).

Saat meninjau pelaksanaan sosialisasi yang digelar di Auditorium UIN Ar-Raniry, Kota Banda Aceh tersebut, Ibu Iriana didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla dan sejumlah anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK).

Kedatangan Ibu Negara bersama rombongan disambut dengan persembahan lagu ‘Bungong Jeumpa’, pembacaan puisi, dan juga tarian Meusare-sare. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ‘Ikrar Anti Narkoba’ oleh dua orang perwakilan siswa yang diikuti seluruh pelajar yang hadir.

Dalam peninjauan tersebut, Ibu Iriana melakukan dialog interaktif dengan para siswa. Ibu Iriana meminta dua orang perwakilan siswa untuk maju ke depan dan menjelaskan tentang bahaya narkoba kepada teman-temannya.

Uniknya, Ibu Negara meminta kedua siswa tersebut untuk menjelaskannya ke dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Aceh. “Ini teman-temanmu mau menerangkan tentang bahaya narkoba dengan bahasa Indonesia, diterjemahkan dengan bahasa Aceh. Dengarkan semua ya,” ujar Ibu Iriana.

Seorang siswi perempuan maju untuk menerangkan bahaya narkoba dengan bahasa Indonesia, sedangkan seorang siswa laki-laki menerjemahkannya ke dalam bahasa Aceh. Keduanya pun berhasil menjalankan tugas yang diberikan Ibu Negara dengan baik dan mendapatkan hadiah berupa laptop.

Berbeda dengan Ibu Iriana, Ibu Mufidah Jusuf Kalla melakukan tanya jawab dengan sejumlah siswa difabel tentang bahaya hoaks atau berita bohong. Untuk diketahui, dari seribu siswa yang hadir, 50 siswa diantaranya penyandang difabel.

“Mereka tahu (hoaks itu berita tidak benar) walaupun dengan keterbatasan tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara,” ujar salah seorang pendamping yang membantu menjelaskan jawaban para siswa difabel tersebut.

Wartawan: Arina
Editor: Rianza