Ketua Umum PP Muhammadiyah Buka Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah di Palembang

oleh -66 views
Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dan didampingi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki, di Ballroom Hotel Swarna Dwipa Palembang, Jumat (8/11/2019), membuka secara resmi Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah di Palembang

Palembang, klikampera.com – Sebagai gerakan perempuan memiliki posisi penting dalam pembangunan bangsa, sehingga dari waktu ke waktu harus menerjemahkan kembali visi dan misinya sesuai konteks perkembangan zaman. Nasyiatul Aisyiyah (NA) sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah (usia keanggotaan 17-40 tahun) yang telah berusia 91 tahun saat ini, telah melakukan revitalisasi dan kontekstualisasi visi dan misinya dalam sejarah panjang perjuangan perempuan dan kontribusinya bagi pembangunan bangsa.

Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Ketum PP Muhammadiyah

Atas dasar ini juga, Nasyiatul Aisyiyah menggelar Tanwir II dalam periode kepemimpinan 2016-2020, dengan mengangkat tema “Gerakan Keluarga Muda Tangguh untuk Kesejahteraan Bangsa”, yang dibuka secara resmi oleh Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dan didampingi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki, di Ballroom Hotel Swarna Dwipa Palembang, Jumat (8/11/2019).

Kegiatan yang diikuti 31 PW NA seluruh Indonesia dengan total peserta 200 orang ini turut dihadiri dalam kegiatan tersebut Gubernur Sumsel H. Herman Deru, S.H., M.M., Kadis Sosial Sumsel Rosyidin Hasan, Ketua PWM Sumsel Prof. Dr. Romli SA, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., Ortom tingkat nasional, Ketua PW Aisyiyah Sumsel Dra. Drami Hartati, Ketua PW NA Isnania, Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernendi., dan kader NA se-Indonesia.

Ketua PP NA Diyah Puspitarini mengatakan bahwa Tanwir merupakan kegiatan tertinggi setelah muktamar, alhamdulillah Pimpinan Wilayah NA Sumsel bersedia menjadi tuan rumah dan didukung oleh seluruh komponen Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Selatan. Sebelumnya, kita sudah melaksanakan 4 kegiatan yang sudah dilaksanakan pada 07 November 2019 di Universitas Muhammadiyah Palembang yakni Sosialisasi Pedoman Administrasi, Kopdar Literasi, dan Pelatihan Keprotokolan.

Peserta Tanwir II NA di kota Palembang

Ia melanjutkan bahwa Salah satu keputusan Muktamar di Yogyakarta tahun 2012, diputuskan 10 komitmen kader NA, harapannya menjadi cambuk para kader untuk meningkatkan kompetensi diri, dan memantaskan diri jadi kader umat, dan kader bangsa. Berat memang menjadi kader NA, namun jika dijalani dengan bahagia akan terasa ringan. bahkan Tanwir I di provinsi Kalimantan Selatan menghasilkan Manifesto Banjarmasin yang merupakan sikap terhadap kondisi bangsa untuk kemajuan bangsa Indonesia. Kita juga menyisipkan lounching keluarga tangguh sejahtera. Tema disesuaikan dengan kondisi negara saat ini akan menjadi materi yang turut dibahas pada tanwir ini.

“Arah gerak NA mendatang menuju Muktamar 2020 akan mempersiapkan segala sesuatunya, karena usia pengurus NA rata-rata diusia 17-40 tahun. Oleh karena itu kepada Kementerian Koperasi dan UMKM untuk mengajak NA berkontribusi dengan bergerak usaha kuliner dan fashion dalam memberdayakan kader NA diseluruh Indonesia” jelasnya.

Pada kesempatan yang Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menuturkan bahwa tema Tanwir II NA ini sangat penting dengan perkembangan masyarakat maju yang ada gerakan keluarga. Ditengah tegerusnya kehidupan keluarga menajdi tempat kembali yang paling tepat ditengah terjadi disorientasi era sosial distruction, keluarga menjadi the giant of power (kekuatan raksasa yang mampu menyerap perubahan sosial). Ketika orang tidak bisa bertahan dengan pergeseran sosial, keluarga menjadi tempat yang paling tepat. Saat orang terlalu ambisius dengan mencari dan tetap berlindung kembali di keluarga.

Lanjutnya, hal ini selaras dengan slogan Rumahku adalah Surgaku, karena peran NA sangat tepat untuk menghidupkan keluarga yang sakinah. Sebab perubahan sosial saat kini melalui interaksi sosial mengalami perubahan yang sangat masif, karena media sosial tidak kenal waktu dan ruang serta mampu menembus batas. Bisa 1×24 jam lebih dalam menggunakan media sosial lewat HP. Media ini akan menciptakan situasi baru. Teknologi yang canggih akan menimbulkan dampak negative kekejaman teknologi, yang membunuh manusia secara massif. Bagaimana mungkin anak kecil yang belum akil baliq melampaui orang tuanya bahkan tidak terkontrol oleh orang tuanya, hal ini yang disebut adnum sebagai pembunuh oleh teknologi informasi.

“Teknologi yang canggih akan menciptakan hegemoni budaya yang masif. Kerasnya orientasi politik melalui media sosial yang begitu rupa akan menghentikannya akan sangat susah. Inilah yang disebut hegemoni teknologi yang mengendalikan kita, bukan kita yang mengendalikan teknologi” ulasnya.

“Muhammadiyah selalu menyatu dengan kebangsaan dan kita termasuk pendiri bangsa. Kami selaku PP Muhammadiyah juga mengucapkan terima kasih atas perjuangan pemerintah yang telah menetapkan Prof. Dr. Kahar Muzakir sebagai pahlawan nasional. Muhammadiyah tidak punya beban sejarah namun menjadi penjaga sejarah dengan cara Muhammadiyah. Dengan peran ini Muhammadiyah dan NA punya tempat di negara RI dengan bermartabat, bermarwah, tanpa merasa digdaya dan merasa hebat. Kita semua dibangun bersama semangat kebersamaan dan bekerja bersama untuk Indonesia yang berkemajuan” tambahnya.

Editor: Rianza Putra