Mahasiswa Perlu Waspada Akan Penggunaan Gadget Overdosis

oleh
Diskusi Interaktif Frequency Goes to Campus di Universitas Tridinanti Palembang

Palembang, klikampera.com – Kecanggihan era komunikasi dengan beragam smarthone dengan segala kecanggihannya tak bisa dipungkiri saat ini menjadi lebih memudahkan komunikasi dengan berbagai fiturnya.

Namun ternyata, penggunaan gawai atau smartphone/gadget yang berlebihan (overdosis) akan berdampak negatif secara signifikan disebabkan ketidak pemahaman dalam mengelola perangkat komunikasi.

Demikian mengemuka dalam diskusi Interaktif Frequency Goes to Campus di Universitas Tridinanti Palembang, Kamis (13/9/2018).

“Masih banyak masyarakat awam termasuk mahasiswa yang belum mengenal apa itu spektrum frekuensi. Karena selama ini mereka hanya menggunakannya saja dan belum paham sejauh mana tingkat kewaspadaan yang harus dihadapi,” ujar Aryo Pamoragung selaku Kepala Subdirektorat Penataan Alokasi Spektrum Dinas Tetap dan Bergerak Darat di sela acara.

Lanjut dia, mencontohkan penggunaan earphone yang menjadi kebiasaan kawula muda. Jika terlalu sering apalagi dengan volume maksimal bisa membahayakan telinga. Menurutnya kebiasaan ini bisa mengganggu kesehatan apabila berlebihan.

“Termasuk dari radiasi yang sering terpancar di gadget. Saat ini sudah banyak anak muda yang tidak bisa lepas dari gadgetnya, setiap saat pegang handphone. Entah itu bermain sosial media, membuka situs informasi dan sebagainya. Artinya penggunaan gadget sudah mendominasi dan bahaya radiasi juga cukup besar,” jelasnya.

Menurutnya, dalam spektrum frekuensi sendiri merupakan pengiriman informasi melalui media udara dilakukan dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk membawa pesan atau informasi ke tempat tujuan. Maka itu banyak media seperti radio dan televisi yang masih memakainya karena bisa menjangkau daerah yang cukup luas.

“Tujuan kita mengadakan Goes to Campus ini tentunya mengenalkan generasi muda untuk ramagh frekuensi. Dengan demikian mereka akan lebih bijak dalam memakai perangkat teknologi dan terhindar dari dampak negatif yang ditimbulkan,” ungkapnya.

Sementara itu, R Susanto, dari Sekretaris Ditjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika mengatakan sudah menjadi tugas pemerintah untuk mengasah semua stakeholder yang sebagian besar mahasiswa untuk mengerti dan memanfaatkan sepektrum frekuensi.

“Tentu saja gunanya mendorong dan menjaga serta memahami spektum penggunaannya. Penggunaan di kampus juga mendorong pengembangan fungsi yang dapat melengkapi regulasi,” ujarnya.

Apalagi di ekonomi digital saat ini perubahan sekarang bergantung pada generasi muda, maka itulah pemerintah mendorong sosialisasi di kalangan mahasiswa ini.

“Kalau berbicara ekonomi digital, daya saing bangsa secara otomatis memakan waktu. Namun berkat media digital bisa lebih efisiensi,” jelasnya.

Wartawan: Anggra
Editor: Rianza