Melihat Lebih Dekat Ujian Nasional di Balik Penjara

Oleh Klikampera pada Rabu, 11 April 2018 01:08 WIB
  • Whatsapp

Palembang, klikampera.com – Siapapun memang wajib mendapatkan pendidikan terutama bagi mereka anak-anak, tak terkecuali bagi mereka yang terlibat kasus pidana dan berujung di penjara.

Ya, suasana ini lah yang tergambar pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas 1A Palembang.

Ada yang tersandung kasus pencurian, narkoba, pembunuhan, hingga melarikan anak gadis orang. Begitulah gambaran aksi kriminal yang dilakukan 15 Andikpas (Anak Didik Lapas) Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) kelas 1A Pakjo Palembang.

Namun siapa mengira, karena merasa dulunya pernah melakukan kesalahan, para remaja ini lantas tak berhenti sekolah. Hingga mereka mampu bertarung pada Ujian Nasional (UN) yang merupakan penentu kelulusan dan kesempatan mereka untuk memperbaiki diri di masa depan.

Beberapa siswa berseragam putih abu-abu nampak turun dikawal dua petugas dari LPKA kelas 1A Pakjo Palembang. Di leher mereka tergantung kartu tanda pengenal peserta UN yang akan besiap memasuki sesi 3. “Mereka percaya masa depan masih panjang. Maka itu semua mau ikut UN, dan memang dapat jadwal di sesi terakhir,” ujar kepala Lapas, Budi Yuliarno yang turut mengawal jalannya ujian.

Dengan santun para siswa ini menyalami seorang guru yang menyambut mereka turun dari mobil. Rupanya sang guru terbiasa mengajar mereka di lingkungan Lapas sendiri. Bahkan saat akan dibrefing sebelum ujian pun mereka tetap tertib.

“Memang SMAN 11 ini sekolah fillial bagi Andikpas. Jadi ujiannya selalu disini setiap tahun. Kita tak pernah memaksa mereka untuk lanjut sekolah, namun tak henti memotivasi mereka kalau masa depan mereka masih panjang,” ungkapnya.

Tak ada keraguan di belasan wajah Andikpas tersebut saat mengikuti UNBK. Mereka yang semula berasal dari berbagai sekolah dan daerah ini lantas menyatu dalam ruangan dan membaur dengan siswa lain dari SMAN 11 Palembang. “Kalau yang masih berstatus tahanan ada tujuh anak. Lalu delapan lagi sudah bebas, tapi tetap mengikuti sekolah disini,” jelasnya.

Terkait masa hukuman, Budi menerangkan jika lamanya mereka ditahan tergantung dari kasus masing-masing. Biasanya paling ringan satu tahun, dan ada juga yang sampai 5-10 tahun. “Maunya kita setelah mereka lulus SMA ini bisa lanjut ke perguruan tinggi. Atau bisa juga mengembangkan keahlian untuk berwirausaha. Jangan sampai setelah keluar dari Lapas mereka kehilangan arah dan bisa berbuat kriminal lagi,” ujarnya.

Mengenai pola pembelajaran Andikpas selama ini, ia menjelaskan memang selalu mendatangkan guru ke Lapas. Mulai dari jenjang SD sampai SMA. Tergantung dari sekolah Fillial yang ditentukan.

“Kita lihat cukup dari semangatnya, karena pendidikan menjdi satu hal yang utama. Walaupun Andikpas berbeda dengan siswa lain dalam hal belajar dengan keterbatasan tempat dan sarana prasarana,”pungkasnya. (SGR)

Pos terkait