Olimpian Pertanyakan IOC Yang Tampak Tanpa Plan B Soal Olimpiade Tokyo

Oleh Klikampera pada Rabu, 18 Maret 2020 10:46 WIB
Olimpian lompat galah peraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 asal Yunani, Katerina Stefanidi, yang mempertanyakan sikap IOC yang tampak tanpa Plan B soal kelanjutan Olimpiade Tokyo di tengah pandemi global COVID-19

Jakarta, klikampera.com – Olimpian peraih medali emas lompat galah Katerina Stefanidi mempertanyakan sikap Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang tampak tidak punya opsi alternatif alias Plan B mengenai Olimpiade Tokyo di tengah pandemi global COVID-19 yang masih berlangsung.

IOC baru saja mengeluarkan pernyataan komitmen penuh tetap menyelenggarakan Olimpiade Tokyo sesuai jadwal pada 24 Juli s.d. 9 Agustus dan menegaskan saat ini tidak perlu ada perubahan drastis terhadap pesta olahraga empat tahunan tersebut.

Bahkan, dalam pernyataannya IOC mengimbau para atlet untuk tetap berlatih, yang menurut Stefanidi hal itu sama saja dengan memaksa atlet mempertaruhkan kesehatannya.

“Tidak ada penundaan, ataupun pembatalan. Tetapi pernyataan itu mempertaruhkan kesehatan kami,” kata atlet Yunani itu dalam wawancara eksklusif dilansir Reuters, Rabu (18/3) WIB.

“Kami semua ingin Olimpiade Tokyo berlangsung, tetapi adakah Plan B jika itu tidak berjalan sesuai rencana?” ujarnya menambahkan.

Menurut Stefanidi, keberadaan opsi alternatif bakal membuat situasi berbeda bagi para atlet termasuk dirinya.

“Keberadaan opsi alternatif akan mengubah pendekatan latihan saya, sebab saat ini saya mungkin mengambil risiko cuma-cuma, yang mungkin tidak akan saya lakukan jika saya tahu ada Plan B,” katanya.

“Kami, para atlet, harus memutuskan apakah perlu mempertaruhkan kesehatan dengan melanjutkan latihan di tengah kondisi yang seperti ini,” pungkas Stefanidi.

Senada dengan Stefandi, jawara heptathlon asal Britania Katarina Johnson-Tompson juga mempertanyakan imbauan IOC agar atlet terus berlatih mempersiapkan penampilan di Olimpiade Tokyo empat bulan lagi.

Terlebih, Johnson-Thompson baru saja pulang dari latihannya di Prancis setelah negara itu menerapkan penutupan menyeluruh sementara atau lockdown.

“IOC ‘mengimbau atlet untuk terus mempersiapkan diri menuju Olimpiade Tokyo sebaik mungkin’ karena kompetisi tinggal empat bulan lagi, tetapi pemerintah mengeluarkan aturan agar warga mempraktikkan swakarantina dengan penutupan lintasan lari, gym maupun ruang publik,” dalam layar tankap catatan yang dicuitkan Johnson-Thompson melalui akun Twitter pribadinya, @JohnsonThompson.

“Saya kini berada dalam tekanan untuk berlatih dan melahap menu rutin, yang sebetulnya tidak memungkinkan,” ujarnya lagi.

Pun mengumumkan komitmen agar Olimpiade Tokyo tetap digelar sesuai jadwal awal, IOC pada Rabu akan menggelar pembicaraan lagi dengan NOC negara-negara anggota.

Keputusan IOC mengumumkan komitmen melangsungkan Olimpiade Tokyo sesuai jadwal bertolak belakang dengan langkah UEFA dan CONMEBOL yang masing-masing mengundurkan Euro dan Copa America ke tahun depan.

(Ant/riil)

Pos terkait