Peranan Wanita di Era Globalisasi 

Oleh Klikampera pada Sabtu, 21 April 2018 17:00 WIB

Klikampera.com – 21 April, menjadi salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana setiap tahun di tanggal tersebut diperingati sebagai hari Kartini. 

Siapa yang tidak tahu R.A Kartini? Tentu semua orang mengenal beliau. Beliau adalah seorang pejuang wanita, yang memperjuangkan hak-hak wanita yang terinjak-injak karena dianggap lemah, tidak bisa apa-apa, dan tidak berdaya dibandingkan kaum pria. Oleh karena perjuangannya, kini para kaum wanita dapat bersekolah. 

Karena sesungguhnya dalam ajaran Islam, Rasulullah s.a.w yang memerintahkan agar orang Islam itu wajib menuntut ilmu, perintah itu ditujukan pula dengan tegas kepada wanita disamping kepada pria.

Tanggung jawab pendidikan dibebankan atas pundak si ibu yang dengan suatu tamsil dimana wanita dianggap sebagai tiang yang menentukan tegak-runtuhnya suatu Negara. Manakala baik akhlak wanitanya, maka baiklah negaranya, tetapi manakala buruk akhlak wanitanya, maka rusaklah negaranya. 

Dengan demikian jelaslah bahwa pandangan orang yang menganggap bahwa wanita itu tidak perlu sekolah dan tidak perlu terpelajar karena ia akan ke dapur juga, adalah pandangan yang salah. 

Berkat perjuangan R.A Kartini, kini para kaum wanita dapat bersekolah dengan baik, dapat melakukan banyak kegiatan dan tidak lagi dianggap lemah. 

Lalu, apakah peranan wanita dalam era globalisasi yang modern ini?

Wanita mempunyai posisi sentral dalam keluarga : sebagai istri, mitra suami, sebagai ibu rumah tangga, sebagai ibu pendidik pertama dan utama karena pendidikan berlangsung sejak janin masih dalam kandungan ibu dan sebagai ibu bangsa yang mempersiapkan generasi penerus.

Tetapi yang sering kurang diketahui dan kurang dipahami masyarakat ialah, bahwa potensi wanita yang begitu besar dan sangat menentukan keberhasilan pembangunan nasional, khususnya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, belum dikembangkan secara maksimal.

Peranan wanita makin dirasakan dalam gerak pembangunan yang kian pesat, sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Di era globalisasi sekarang, kaum ibu harus dilindungi dan harus mendapat tempat dalam berbagai kesempatan. Kaum ibu, jangan sampai termajinalkan, apalagi mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Peranan wanita dalam era-globalisasi ini sangat banyak. Banyak pekerjaan yang dilakukan oleh para wanita sekarang ini sama dengan pekerjaan kaum pria. Hal ini dilakukan juga karena faktor-faktor tertentu, misalnya karena faktor ekonomi, dalam pelajaran sosiologi, ini dapat disebut dengan penyimpangan yang positif karena dianggap mempunyai unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya alternatif sehingga mengarah pada nilai yang didambakan. 

Contohnya, seorang ibu terpaksa menjadi tukang becak karena keadaan ekonomi dan juga wanita yang bekerja karena ingin mengisi waktu luang dan menyalurkan kemampuan yang ia miliki. Karena wanita yang tidak bekerja, baik di rumah maupun di luar rumah, akan kehilangan akal unntuk mengisi waktu, mungkin ia akan pergi bertandang kerumah tetangga atau tidur di rumah dan main-main tanpa arah.

Akibatnya, ia akan merasa bosan, kesal dan tidak tenang. Keadaan yang seperti itu akan menyebabkan suasana keluarga menjadi tegang dan pendidikan anak-anak akan terbengkalai. Oleh sebab itu wanita harus bekerja sesuai kodrat dan kemampuannya.

Sesungguhnya pandangan Islam terhadap wanita benar-benar tinggi, bahkan dalam Al-qur’an sangat banyak ayat-ayat yang menunjukkan hal tersebut. Jika kita teliti sejarah Islam, akan tampaklah betapa besar perhatian Nabi Muhammad s.a.w dalam usaha mengangkat tinggi derajat wanita. Misalnya, Siti Khadijah adalah wanita pengusaha kaya, yang mempunyai usaha dagang dalam luar negeri (Mekah dan Syam).

Nabi muhammad s.a.w menghargai pandangan dan pendapat beliau dalam banyak hal, bahkan kadang-kadang minta pertimbangan kepada istri beliau. Dalam perjuangan Nabi Muhammad s.a.w pada masa-masa pertama dari ke-Rasulan beliau, Siti Khadijah mendorong dan membantu perjuangan beliau dengan segala apa yang dapat diberikannya, dengan memberikan dorongan moril, semangat, dan dengan hartanya sehingga perjuangan berat yang dihadapi Nabi Muhammad s.a.w pada waktu itu dapat teratasi. Segala halangan dan rintangan yang bertubi-tubi dihadapi oleh Nabi dengan tenang.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh wanita selain menjadi ibu rumah tangga. Misalnya, jika dulu pemimpin haruslah pria, maka sekarang pun wanita bisa menjadi pemimpin. Buktinya banyak wanita yang menjadi kepala desa, camat, bahkan menjadi pejabat. Pekerjaan yang dilakukan wanita harus tetap dalam batasan-batasan yang pantas.

Maksudnya, tetap ada pekerjaan atau hal-hal yang dilakukan kaum adam yang tidak bisa digantikan oleh wanita. Contohnya, kepala keluarga. Meskipun dalam pekerjaannya seorang wanita berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya, di dalam keluarga sang suami tetaplah menjadi kepala keluarga. Karena wanita diciptakan untuk melayani suaminya. Tetapi dalam hal mendidik anak-anaknya, hak dan kewajiban keduanya adalah sama.

Upaya peningkatan peranan wanita ditujukan untuk meningkatkan kedudukan dan peranannya :

Sebagai pribadi yang mandiri, yang perlu mengembangkan dirinya agar dapat berperan aktif dalam pembangunan dan menjawab tantangan kemajuan yang dibawa oleh pembangunan.

Sebagai istri dan ibu, bersama-sama suami/bapak bertanggung jawab atas kesejahteraan, kebahagiaan keluarga dan pembinaan generasi muda yang berkualitas dalam arti sebagai manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, cerdas, berbudi luhur, berkepribadian kuat, mandiri, kreatif, mempunyai semangat kebangsaan yang tinggi dan berorientasi ke masa depan.

Sebagai anggota masyarakat, yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial yang tinggi dan berperan serta secara aktif dalam membina kehidupan bermasyarakat yang aman dan tentram.

Sebagai warga Negara, yang perlu menyadari akan hak dan kewajibannya serta berperan aktif dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai warga dunia, yang perlu menyadari permasalahan yang dihadapi dunia dan ikut serta memelihara perdamaian dunia dan menciptakan kemakmuran dunia yang lebih merata.

Kedudukan wanita di Indonesia sudah diangkat dan sudah dilakukan pemberdayaan wanita. Sudah ada Undang-Undang Anti Kekerasan terhadap wanita. Sudah terbentuk lembaga-lembaga yang membela hak-hak wanita. Meskipun sudah diangkat, namun usaha-usaha tersebut masih belum maksimal.

Mengapa dikatakan belum maksimal? Karena masih banyak terjadi kekerasan terhadap kaum hawa, contohnya penyiksaan suami terhadap istrinya, penyiksaan TKW(Tenaga Kerja Wanita) oleh majikannya. Hanya karena menjadi pembantu Rumah Tangga, ia diperlakukan sebagai seorang hina. Padahal di zaman yang sudah modern ini, jika tidak ada wanita-wanita yang bekerja sebagai PRT(Pembantu Rumah Tangga), lalu siapa yang membantu dan mengurus rumah? Jika seandainya pekerjaan kita menyita waktu terlalu banyak.

Oleh karena itu, diperlakukan pembenahan tidak hanya dalam Undang-Undang, tetapi juga kesadaran masyarakat. Wanita sekarang memang sudah dapat bekerja dan melakukan banyak kegiatan.

Pos terkait