Terdata 18 Ribu Penderita TBC di Sumsel

oleh -75 views

Sumatera Selatan, klikampera.com – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, masih banyak di tenukan kasus Tuberkulosis (TBC). Pada 2017, jumlah penderita TBC tercatat mencapai 18.430 penderita. Jumlah penderita tersebut masih jauh dari target penemuan kasus yang mencapai 40 ribu penderita.

“Banyak yang menganggap ringan penyakit ini. Lantaran cirinya seperti batuk pada umumnya. Sehingga, terkadang penderita hanya meminum obat sekedarnya dan tidak memeriksakan dirinya lebih jauh ke dokter,” ujar Kepala Dinkes Sumsel, Lesty Nuraini.

Lesty mengatakan penularan penyakit TBC sangat mudah terjadi. Kondisi ini disebabkan kurangnya kepekaan masyarakat terhadap penyakit tersebut.

Karena itu jumlah penderita TB setiap tahun diestimasi meningkat sebanyak 40 ribu penderita. Namun, yang terdeteksi oleh pihaknya dari RS, Puskesmas ataupun praktek dokter swasta baru sekitar 46 persennya. Kondisi ini menyebabkan, pengendalian terhadap penyakit ini masih kurang.

“Sebenarnya setelah didata, segera dilakukan penjaringan pada keluarga dan tetangga sekitar. Lalu diobati sampai sembuh. Sehingga tidak menular ke orang lain,” katanya.

Untuk mendeteksi TB ini sambung Lesty, biasanya dilakukan dengan metode tes dahak. Melalui metode ini, bisa diketahui secara detail apakah hasilnya positif atau negatif. “Hasil dari tes biasanya keluar 2-3 hari. Setelah itu baru dilakukan penanganan,” ungkapnya.

Dijelaskan Lesty, proses penjaringan telah dilakukan dengan berbagai cara dan inovasi. Selain itu juga, proses sosialisasi dikaitkan dengan berbagai program dan kerjasama lintas sektor.

“Masyarakat terus kami berikan edukasi. Agar bisa memiliki kepekaan terhadap penyakit. Dan jangan ragu untuk membawa keluarga atau kerabat dekatnya yang mengidap ke rumah sakit,” tuturnya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Fery Yanwar mengaku tingkat penemuan kasus masih rendah. Pasalnya, banyak penderita TB yang tidak tahu jika dirinya sakit sehingga tidak menjalani pengobatan.

“Dianggapnya cuma batuk-batuk biasa. Sehingga menganggap remeh. Biasanya ketahuan setelah parah dan menular ke orang lain,” terangnya.

Fery menuturkan sebagai langkah pencegahan, jajarannya melakukan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tangga. “Selain itu, penderita juga harus rutin memeriksakan penyakitnya ke dokter,” imbaunya.

Dijelaskan Fery, secara nasional penemuan kasus TB juga masih rendah. Maka untuk saat ini pemerintah mengupayakan peningkatan penemuan kasus TB melalui public private mix (PPM) yaitu dengan mengajak rumah sakit, klinik dan dokter praktek swasta untuk melaporkan kasus TB yg mereka temukan.

“Karena cukup banyak kasus TB yang belum dilaporkan melalui penemuan di klinik dan dokter praktek tersebut,” ucapnya.

Menurut Fery, proses pengobatan TB non resistensi obat butuh waktu 6 bulan. Sehingga sangat penting memberikan edukasi bagi pasien dan keluarganya agar dapat minum obat secara teratur. “Kesehatan dan lingkungan penderita juga harus dijaga,” pungkasnya. (ra)